Keunggulan Jawa Timur, Meskipun Berbudaya Tapi Modern Kesetaraan Gender dan Memadukan Nilai Islam!

Budaya dan Gender

Penulis_@Ratu Eka Bkj


Perbedaan Budaya Jawa di Jawa Timur dengan Jawa Tengah adalah, di Jawa Timur budaya Jawa sudah diakulturasi / dimodernisasi dengan nilai-nilai Keislaman dan nilai-nilai Ilmiah/Pemikiran Modern yang Kesetaraan. Sedangkan kalau di Jawa Tengah, cenderung masih menggunakan budaya Jawa konvensional atau klasik. 


Kesetaraan gender di Jawa Timur lebih maju ketimbang di daerah lain. Terbukti, hanya Jawa Timur yang punya Gubernur Perempuan mengalahkan Jakarta yang sampai saat ini 2023 belum pernah punya Gubernur Perempuan. Bahkan, dengan Jakarta yang katanya kota metropolitan saja masih belum dapat mencetuskan kader Perempuan sebagai Pemimpin. Jakarta masih kalah dengan Jawa Timur, soal Kepemimpinan Perempuan dan Kesetaraan Gender. 


Teringat juga, zaman Saya kuliah dulu sekitar tahun 2014/2015 pernah study banding ke Semarang /Jawa Tengah. Kaget banget kulture di kelas yang sangat jomplang. 


Kita di Jawa Timur sudah terbiasa perempuan debat dengan pria, bahkan perempuan jadi Ketua Umum, perempuan menang debat, perempuan jadi Ketua Kelompok, dan lain sebagainya. Tapi, kaget banget waktu diskusi di kampus Semarang (Tidak Saya sebutkan nama kampusnya) zaman dulu. Dimana perempuan-nya cuman fakum dengerin doang, yang debat hanya para pria, ada satu dua perempuan paling cuman tanya standar doang nggak berani debat. Dari situ Saya berpikir, ternyata Jawa Timur masih lebih bagus kesetaraan gender-nya dan nilai ilmiah modernisasi. 


Berikutnya lagi, terkait budaya Kembar Mayang di Jawa Timur berbeda dengan Jawa Tengah. Kalau di Jawa Tengah masih ada budaya gendong anak/mantu perempuan. Bahkan, ada yang mendoktrin kalau tidak digendong berarti anak/mantu perempuan sudah tidak perawan atau bahkan hamil duluan. 


Berbeda dengan di Jawa Timur yang lebih mengutamakan kesetaraan gender dan adab. Sehingga, membuat di Jawa Timur anak/menantu perempuan tidak boleh digendong oleh Ayah/mertua. Namun, budaya tersebut diubah dengan manten perempuan dan maten pria & ayah digiring pakai selendang merah. Secara filosofi, ini ada nilai Sosial dan Keislaman. Nilai Sosialnya adalah supaya lebih kesetaraan gender, menghilangkan tradisi yang mengandung stigma sexsis / merendahkan perempuan hanya karena perawan tidaknya, padahal cowok banyak yang sudah nggak perjaka kenapa tidak dipermasalahkan. 


Secara nilai Keislaman, supaya menjaga adab. Karena, menantu perempuan bukan mukrim sehingga tidak boleh digendong mertua. Begitupun, anak perempuan tidak boleh digendong Ayah-nya. Sebab, sudah dewasa harus ada batasan fisik untuk menghindari fitnah. 



KERJASAMA BISNIS, Mulai Klik Hubungi Kami via Whatshap 
0895367203860 
Owner, Founder, CEO
= 085704703039 
Customer Service


DUKUNG SITUS INI YA PEMIRSA, SUPAYA KAMI SEMANGAT UPLOAD CONTENT DAN BERBAGI ILMU SERTA MANFAAT.

DONASI DAPAT MELALUI BERIKUT INI =


0481723808

EKA APRILIA.... BCA


0895367203860

EKA APRILIA, OVO

Comments

Popular posts from this blog

KECANTIKAN & AURAT ITU UNTUK DIRI SENDIRI, BUKAN BUAT SUAMI!